MainBerita.com – Di Palembang, Cap Go Meh tidak hanya dirayakan dengan parade dan pertunjukan seni, tetapi juga dengan tradisi ziarah ke klenteng-klenteng tertua di kota ini, seperti Klenteng Hok Tjing Rio dan Klenteng Chandra Nadi.
Perayaan Cap Go Meh di Palembang, Sumatera Selatan, memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari perayaan serupa di daerah lain.
Salah satu tradisi khas yang dilakukan adalah penyembelihan kambing hitam jantan pada malam puncak perayaan.
Tradisi ini merupakan hasil akulturasi budaya antara Tionghoa dan Islam, yang berakar dari legenda cinta antara saudagar Tionghoa, Tan Bun An, dan putri Raja Sriwijaya, Siti Fatimah.
Kisah mereka diabadikan dalam makam yang berada di Pulau Kemaro, tempat utama perayaan Cap Go Meh di Palembang.
Pada tahun 2025, perayaan Cap Go Meh di Palembang digelar lebih awal, yaitu pada 10-11 Februari, untuk menyesuaikan dengan kondisi pasang surut Sungai Musi.
Hal ini dilakukan agar kapal yang membawa warga Tionghoa dari berbagai daerah dapat bersandar dengan aman di Pulau Kemaro.
Untuk memudahkan akses ke Pulau Kemaro, panitia perayaan menyiapkan jembatan ponton yang menghubungkan daratan Palembang dengan pulau tersebut.

