Mainberita – Di balik megahnya bangunan Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH) yang berdiri tegak di kawasan hijau Wassenaar, tersimpan kisah sederhana namun penuh makna tentang loyalitas dan pengabdian. Kisah itu datang dari seorang pria asal Tulungagung, Jawa Timur, bernama Mulyono, yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjaga dan merawat sekolah kebanggaan Indonesia di Belanda ini.
Bagi banyak orang, Den Haag mungkin identik dengan diplomasi dan gedung-gedung megah tempat para perwakilan dunia berdiskusi. Namun bagi Mulyono, Den Haag adalah ladang pengabdian — tempat ia menyalakan semangat Indonesia di tanah Eropa.
Perjalanan Mulyono dimulai dari sebuah desa di Tulungagung. Ia tumbuh dengan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan ketulusan — warisan moral khas masyarakat Jawa. Saat mendapat kesempatan bekerja di lingkungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Mulyono tak pernah menyangka bahwa tugasnya akan menjadi panggilan hidup.

Bertahun-tahun ia setia bekerja di Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH), bukan hanya sebagai penjaga fasilitas, tetapi juga penjaga semangat. Ia merawat ruang kelas, taman sekolah, dan memastikan bendera Merah Putih selalu berkibar dengan gagah setiap pagi. Dalam diam, Mulyono menjadi saksi perjalanan generasi demi generasi pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri.
“Bagi saya, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini rumah Indonesia di negeri orang,” tutur Mulyono dengan nada lirih namun penuh kebanggaan.
Sekolah Indonesia Den Haag: Rumah Kedua bagi Anak Bangsa. Sekolah Indonesia Den Haag sendiri memiliki sejarah panjang. Didirikan pada 15 Juni 1965, sekolah ini merupakan salah satu Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) tertua yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.


