Mainberita – Bagi sebagian orang, lari hanyalah olahraga, sekadar hitungan kilometer, kalori terbakar, dan detak jantung di jam tangan pintar. Tapi bagi sebagian lainnya, lari adalah perjalanan batin. Sebuah meditasi yang tak butuh tempat sunyi, hanya butuh langkah yang berulang dan niat yang jujur.
Awalnya mungkin cuma lari kecil di jalan raya. Asap kendaraan, trotoar yang retak, dan suara klakson jadi musik pengiring. Tapi dari situ, pelari belajar satu hal: hidup memang ramai, tapi ketenangan itu bukan soal tempat, melainkan cara kita berjalan di tengah hiruk-pikuknya.
Semakin jauh berlari, rutenya pun mulai berubah. Ada tanjakan yang bikin napas tersengal, ada turunan yang menggoda untuk melaju. Di situ pelari belajar lagi bahwa hidup juga punya iramanya sendiri. Tak semua waktu bisa kita percepat, tak semua hal bisa kita paksakan rata. Kadang kita harus menuruni lembah untuk bisa mendaki gunung berikutnya.
Di jalur pegunungan, udara mulai tipis tapi pikiran justru semakin jernih. Langkah-langkah terasa lebih berat, tapi setiap satu meter yang terlewati jadi semacam kemenangan pribadi. Tak ada sorak-sorai, hanya hembusan angin yang menepuk pundak, seolah berkata, “Kamu masih kuat.”
Dan ketika akhirnya menuruni bukit menuju pantai, pelari disambut debur ombak. Di tepi laut itu, setiap langkah seakan memantulkan pertanyaan yang lebih dalam: “Apa sebenarnya yang aku kejar?” Jawabannya seringkali sederhana bukan medali, bukan rekor, tapi kedamaian yang muncul di sela napas yang berat.

