Oleh : Yan Christanto
Mainberita Tulungagung – Saya masih teringat, kala itu sekitar tahun 2010-an ketika masih duduk di bangku perkuliahan S1. Kala itu, kami para mahasiswa kerap memicu diskusi-diskusi panas di ruang kelas maupun forum ilmiah. Salah satu tema debat yang paling ramai diperbincangkan adalah pertanyaan klasik namun tetap relevan: “Pantaskah Soeharto mendapatkan gelar Pahlawan Nasional?”
Mayoritas teman-teman saat itu, mungkin sekitar 70 persen menyatakan ketidaksetujuan. Alasan mereka beragam, mulai dari isu politik hingga catatan kelam masa lalu yang melekat pada sosok Presiden ke-2 Republik Indonesia. Perdebatan berlangsung seru, penuh argumen, dan mencerminkan dinamika pemikiran kritis khas dunia kampus.
Namun di tengah riuh penolakan itu, saya tetap kukuh pada pendirian bahwa Soeharto sangat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
Alasan saya sederhana. Terlepas dari kontroversi dan dinamika sejarah, Soeharto adalah tokoh yang membawa perubahan besar dalam pembangunan Indonesia. Ia dijuluki “Bapak Pembangunan”, sebuah gelar yang lahir bukan dari slogan belaka, tetapi dari keberhasilan nyata melalui program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun).
Program-program pembangunan yang digagas pada era Orde Baru memiliki dampak luas dan berjangka panjang. Salah satu contohnya terlihat di daerah-daerah, termasuk Blitar hingga Tulungagung, di mana infrastruktur seperti saluran irigasi yang terintegrasi melalui program Lodagung (Ludoyo–Tulungagung) masih berfungsi hingga saat ini. Ini adalah bukti bahwa pembangunan tersebut bukan sekadar narasi, tetapi benar-benar hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat akar rumput.
Tentu, sejarah tidak pernah hitam-putih. Setiap pemimpin memiliki sisi positif dan negatif. Namun dalam budaya kita, ada prinsip luhur yang layak direnungkan: “Mikul dhuwur, mendhem jero.” Sebuah sikap untuk meninggikan kebaikan seseorang dan mengubur keburukannya dengan bijaksana, bukan untuk menutup-nutupi, tetapi agar kita mampu menilai secara proporsional dan adil.
Jika kita memilih fokus pada kebaikan, maka yang muncul adalah hal-hal positif. Sebaliknya, jika kita hanya terpaku pada kekurangan, pandangan kita akan terjebak pada satu sisi dan mengabaikan kontribusi nyata yang telah tercatat dalam perjalanan bangsa.
Maka bagi saya, dengan mempertimbangkan pembangunan yang dirasakan rakyat, pencapaian besar pada masanya, serta kontribusi jangka panjang yang masih berdampak hingga kini, Jendral Besar H.M. Soeharto layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Sebab pahlawan bukan hanya mereka yang bertempur di medan pertempuran, tetapi juga mereka yang meninggalkan warisan pembangunan bagi generasi setelahnya.

