29.7 C
Tulungagung
Friday, April 10, 2026
Home Daerah Calon Haji Tulungagung Masuk Urutan Pertama Wilker Kediri, Estimasi Berangkat pada Kloter...

Calon Haji Tulungagung Masuk Urutan Pertama Wilker Kediri, Estimasi Berangkat pada Kloter Akhir

MainBeritaTulungagung – Kepastian jumlah jamaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Tulungagung yang telah merampungkan kewajiban administrasi akhirnya menemui titik terang. Hingga Jumat (23/1) lalu, tercatat ribuan JCH siap menunggu jadwal keberangkatan menuju tanah suci.

Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tulungagung, Suryani menjelaskan, bahwa dinamika pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) menunjukkan tren positif. Meskipun mayoritas jamaah sudah melunasi pada tahap awal, masih terdapat pergerakan data hingga detik-detik terakhir masa perpanjangan yang dibuka oleh pemerintah pusat.

“Alhamdulillah jamaah di Tulungagung yang melunasi tahap 1 dan 2 itu sebanyak 1.192 orang. Kemudian pemerintah melalui Kementerian Haji itu membuka perpanjangan pelunasan tahap kedua sampai dengan hari ini terakhir. Tulungagung ada empat orang (yang melunasi di hari perpanjangan),” ujar Suryani saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.

Dengan tambahan tersebut, total jamaah yang telah melakukan pelunasan kini mencapai 1.196 orang. Namun, Suryani mengingatkan bahwa jumlah tersebut masih bersifat dinamis terkait kepastian keberangkatan tahun ini.

Hal ini disebabkan kuota Jawa Timur yang hanya tersedia untuk 42.409 orang, sementara total jamaah yang sudah melunasi di tingkat provinsi telah melampaui angka 43.000 orang. Kondisi surplus ini membuat sebagian jamaah kategori cadangan kemungkinan besar baru akan diberangkatkan pada musim haji tahun berikutnya.

Mengenai persiapan teknis, Kemenag Tulungagung saat ini tengah memacu penyelesaian dokumen perjalanan. Proses pemindaian dan pengiriman paspor ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jawa Timur terus dikebut guna keperluan penerbitan visa. Selain urusan dokumen, agenda bimbingan manasik juga menjadi prioritas utama yang harus segera dirampungkan dalam waktu dekat.

Sesuai instruksi, manasik haji akan digelar sebanyak lima kali, dengan rincian satu kali di tingkat kabupaten dan empat kali di tingkat kecamatan. Seluruh rangkaian simulasi ibadah tersebut dipatok harus selesai setidaknya empat minggu sebelum jadwal keberangkatan kloter pertama pada 21 April mendatang. Artinya, sebelum 21 Maret, seluruh jamaah harus sudah mengantongi bekal tata cara ibadah secara tuntas.

Terkait posisi keberangkatan, pria ramah tersebut membeberkan hasil musyawarah di tingkat wilayah kerja (Wilker) Kediri yang meliputi tujuh kabupaten dan kota. Berdasarkan sistem rotasi, tahun ini Tulungagung dipastikan menempati posisi terdepan untuk urutan keberangkatan di lingkup Wilker Kediri.

“Kemarin wilker Kediri itu berada di urutan yang terakhir, karena tahun lalu sudah urutan pertama. Kemarin sudah musyawarah wilker, Tulungagung adalah yang pertama di tingkat wilker ini,” terangnya.

Meski menjadi yang pertama di tingkat karesidenan, secara kumulatif di tingkat Jawa Timur, Tulungagung diprediksi akan mengisi slot kloter-kloter akhir.

“Saya estimasikan Tulungagung berada di sekitar kloter 103, 104, atau 105. Itu perkiraan saya karena se-Jawa Timur total ada 116 kloter,” imbuhnya.

Suryani juga memberikan klarifikasi mengenai rumor penggunaan Bandara Dhoho Kediri sebagai titik keberangkatan. Meski lokasi bandara baru tersebut jauh lebih dekat secara geografis, namun untuk musim haji tahun ini, jamaah Tulungagung dipastikan tetap bertolak melalui Bandara Internasional Juanda di Surabaya.

Hal ini berkaitan erat dengan kesiapan infrastruktur penunjang yang belum memadai di sekitar bandara baru tersebut.

“Memang ada rencana Dhoho itu dipakai. Tapi kemarin terkait dengan asrama, karena asramanya belum punya kan,” jelasnya.

Menyinggung soal masa tunggu (waiting list), masyarakat tampaknya harus lebih bersabar. Kebijakan terbaru dari Kementerian Agama menetapkan bahwa rata-rata antrean haji secara nasional kini telah menyentuh angka puluhan tahun. Terlebih dengan total biaya haji yang mencapai kisaran Rp 93 juta, di mana jamaah harus melakukan pelunasan sekitar Rp 33 juta untuk embarkasi Surabaya.

“Sekarang se-Indonesia sama. Dengan kebijakan dari Pak Menteri Haji ini semuanya 26 tahun,” ucapnya. (dit/ari)