Orang yang terbiasa memendam perasaan cenderung kesulitan mengungkapkan kebutuhan dan batasan dalam hubungan. Akibatnya, hubungan menjadi tidak seimbang, penuh kesalahpahaman, dan rentan konflik pasif-agresif.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan isolasi sosial dan rasa kesepian, meskipun dikelilingi banyak orang.
5. Hilangnya Kemampuan Mengenali Emosi Diri
Memendam perasaan bertahun-tahun dapat membuat seseorang kehilangan koneksi dengan emosinya sendiri. Ia sulit mengenali apa yang sebenarnya dirasakan, apa yang diinginkan, dan apa yang membuatnya bahagia.
Kondisi ini sering ditandai dengan perasaan kosong, mati rasa secara emosional, atau menjalani hidup sekadar “bertahan”.
6. Perubahan Perilaku yang Merusak
Sebagai pelarian, sebagian orang mencari cara instan untuk menekan emosi, seperti:
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Makan emosional
- Kecanduan gawai atau pekerjaan
- Perilaku berisiko
Jika tidak disadari, pola ini dapat berkembang menjadi masalah baru yang lebih kompleks.
Cara Mencegah Dampak Buruk Memendam Perasaan
Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana namun penting:
- Belajar mengenali dan menerima emosi, tanpa menghakimi diri sendiri
- Berani berbicara dengan orang terpercaya
- Menulis jurnal sebagai sarana menyalurkan perasaan
- Mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor
Memendam perasaan dalam waktu lama bukanlah tanda kekuatan, melainkan risiko tersembunyi bagi kesehatan mental dan fisik. Mengungkapkan emosi secara sehat adalah bagian penting dari menjaga keseimbangan diri dan kualitas hidup. Jika perasaan terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri, mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. (***)

