Ia menekankan bahwa aksi ini bukan terjadi secara spontan, melainkan hasil dari akumulasi kekecewaan terhadap kebijakan platform digital yang dinilai semakin memberatkan.
Potongan komisi yang mencapai 20%, sistem insentif yang tidak transparan, serta program-program seperti ‘hemat’, ‘prioritas’, dan ‘slot’ dianggap merugikan dan menciptakan ketimpangan bagi para driver.
Achmad juga menegaskan bahwa layanan ojol bukan hanya sekadar alat transportasi murah, melainkan telah menjadi sumber ekonomi alternatif bagi jutaan masyarakat yang tidak memiliki akses ke pekerjaan formal.
Oleh karena itu, suara para pengemudi layak didengar sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif. (*)
1 2

