Kritik ini ada benarnya. Di satu sisi, karnaval adalah wujud sukacita dan kebersamaan. Tapi di sisi lain, kenyamanan warga lain juga perlu dijaga. Jangan sampai semangat berkarnaval justru menimbulkan gesekan sosial.
Sebagai warga, kita perlu tepo seliro atau tenggang rasa. Penyelenggara karnaval dan peserta sound bisa menyesuaikan waktu, misalnya dalam rentang pukul 14.00 hingga 20.00. Meskipun panas, acara tetap bisa berjalan meriah tanpa mengganggu jam istirahat malam.
Dengan begitu, sukacita tetap bergema, tapi harmoni di masyarakat pun tetap terjaga.
Karena sejatinya, karnaval bukan sekadar soal siapa paling keras suaranya, tapi siapa paling bijak menjaga kerukunan di tengah keberagaman.
1 2

