2. Santri Bagian dari Sejarah Nasional
Tanpa perjuangan santri, kemerdekaan Indonesia tidak akan terwujud seperti sekarang. Maka, memperingati Hari Santri berarti ikut mengenang perjuangan ulama dan pejuang bangsa.
3. Sebagai Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda
Perayaan Hari Santri di sekolah umum menjadi momen edukatif untuk menanamkan nilai religius, cinta tanah air, dan semangat perjuangan kepada siswa-siswi.
4. Mendorong Sinergi antara Sekolah dan Pesantren
Dengan turut memperingati Hari Santri, sekolah dan lembaga non-pesantren dapat menjalin kolaborasi dalam bidang keagamaan, sosial, dan pendidikan karakter.
Hari Santri bukan sekadar simbol pakaian sarung, peci, dan baju koko. Lebih dari itu, ia mengandung pesan moral bahwa setiap orang bisa menjadi “santri” dalam kehidupannya masing-masing — yaitu mereka yang belajar, berakhlak, berjuang, dan mengabdi untuk kebaikan bangsa.
Dengan demikian, ketika siswa SD, SMP, SMA, bahkan pegawai kantor atau instansi ikut memperingatinya, itu bukan bentuk “klaim identitas”, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai perjuangan dan spiritualitas santri.
Hari Santri Nasional bukan hanya milik pesantren, tapi milik seluruh rakyat Indonesia.
Setiap orang yang berpegang pada nilai keilmuan, keimanan, dan kebangsaan adalah bagian dari semangat santri sejati.
Jadi, siapapun — baik siswa sekolah umum, guru, ASN, maupun masyarakat — berhak dan layak ikut merayakan Hari Santri sebagai wujud cinta kepada agama dan negara. (*)

