Para ulama menegaskan bahwa puasa wajib tidak sah jika diniatkan setelah fajar.
Contoh Niat Qadha Puasa Ramadan
“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.”
Artinya: “Saya berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadan karena Allah Ta’ala.”
2. Puasa Sunnah Lebih Fleksibel
Berbeda dengan puasa qadha, puasa sunnah boleh diniatkan hingga siang hari, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Ini mengacu pada hadis Rasulullah SAW yang membolehkan niat puasa sunnah di tengah hari, selama seseorang belum makan dan minum.
Contoh Niat Puasa Sunnah
Sebutan niatnya cukup sederhana, misalnya:
“Nawaitu shauma ghadin sunnatan lillāhi ta’ālā.”
Artinya: “Saya berniat berpuasa sunnah esok hari karena Allah Ta’ala.”
3. Apakah Boleh Menggabungkan Niat Qadha dengan Niat Puasa Sunnah?
Topik ini sering menjadi perdebatan. Sebagian ulama membolehkan, namun mayoritas menilai lebih baik tidak menggabungkan niat, karena:
- Puasa qadha adalah ibadah wajib,
- Puasa sunnah adalah ibadah tambahan,
- Menggabungkannya dikhawatirkan membuat salah satu tujuan ibadah tidak sempurna.
Dengan kata lain, utamakan mengganti qadha terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan puasa sunnah secara terpisah.
4. Jadi, Apakah Niat Sahur Qadha Sama dengan Niat Puasa Sunnah?
Tidak sama.
Perbedaannya terletak pada:
- Status ibadah: qadha = wajib, sunnah = tidak wajib
- Waktu niat: qadha harus sebelum subuh, sunnah boleh di siang hari
- Redaksi niat: berbeda sesuai jenis puasa
- Tujuan ibadah: qadha untuk mengganti kewajiban, sunnah untuk menambah pahala
Karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui perbedaan ini agar ibadah puasa yang dikerjakan sah dan sesuai tuntunan.
Niat puasa qadha Ramadan dan puasa sunnah tidak sama, baik dari segi hukum maupun teknis pelaksanaannya.
Bagi siapa pun yang masih memiliki hutang puasa, disarankan untuk segera mengqadha sebelum Ramadan tiba dan meluruskan niat sesuai ketentuan syariat. (**)
Sumber: NU Online

