Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung mengamankan sampel makanan yang dibagikan pada Senin (19/1) lalu. Menu yang dikonsumsi siswa saat itu diketahui terdiri dari nasi, ayam bumbu kuning, selada air, dan sambal. Sampel tersebut kini telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya untuk diuji kandungannya secara klinis.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr. Aris Setiawan, menjelaskan bahwa setiap dapur SPPG sebenarnya diwajibkan memiliki sampel simpanan dari setiap proses memasak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk memudahkan penelusuran jika sewaktu-waktu terjadi insiden luar biasa seperti sekarang.
“Setiap dapur setiap kali ada proses masak, itu pasti akan ada sampel yang disimpan. Itu memang SOP-nya begitu,” terangnya.
Mengingat gejala keracunan bisa muncul dalam rentang waktu yang bervariasi, seluruh fasilitas kesehatan di Tulungagung diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah proteksi dini telah disiapkan untuk mengantisipasi adanya tambahan korban yang mencari perawatan medis.
“Kami sudah menyampaikan ke 32 Puskesmas, utamanya ke Kepala Puskesmas untuk selalu standby paling tidak sampai 3 hari ke depan,” paparnya. (dit/ari)

