Hal ini dinilai merusak pengalaman menonton, terutama dalam genre horor yang sangat bergantung pada elemen ketegangan dan twist.
Meski diangkat dari cerita viral yang diklaim berdasarkan kisah nyata, banyak pihak mulai meragukan kebenaran cerita Pabrik Gula.
Dugaan bahwa kisah tersebut hanyalah fiksi yang dikemas seolah nyata muncul, serupa dengan perdebatan yang pernah terjadi pada KKN di Desa Penari.
Banyak penonton menilai bahwa struktur narasi, jenis konflik, dan pembangunan karakter dalam Pabrik Gula terasa repetitif dan sangat mirip dengan KKN di Desa Penari. Film ini dianggap hanya menyajikan latar baru tanpa inovasi berarti dari segi penceritaan.
Salah satu sorotan tajam tertuju pada akting Erika Carlina sebagai tokoh Naning. Meski dipuji oleh sang sutradara Awi Suryadi karena totalitasnya dalam adegan one take berdurasi tiga menit, netizen justru mempertanyakan kualitas aktingnya, mengingat latar belakang Erika sebagai model dan influencer.
Meski dikelilingi oleh kontroversi, Pabrik Gula tetap berhasil menarik perhatian publik dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform.
Film ini menunjukkan bagaimana antusiasme terhadap film horor lokal bisa bersanding dengan kritik tajam dari para penonton yang semakin kritis. (*)
1 2

