Dari sisi sosial, merek-merek baru juga membawa dilema. Di satu sisi, membuka lapangan kerja bagi ribuan orang di sektor produksi, distribusi, hingga promosi. Tapi di sisi lain, ada pertanyaan etis : apakah kita sedang membangun ekonomi, atau menunda perubahan gaya hidup masyarakat menuju lebih sehat?
Kata logika anak desa, “kalau pohon tua masih berbuah, jangan ditebang — tapi juga jangan lupa menanam yang baru.” Artinya, industri rokok bisa tetap berjalan, asal berani bertransformasi : mengalihkan investasi ke sektor agro, tembakau organik, atau produk turunan nonrokok seperti parfum tembakau dan produk wellness berbasis nikotin rendah.
Jadi, bermunculannya merek rokok baru bukan sekadar tren. Ia adalah cermin: apakah kita sedang menghidupkan peluang bisnis, atau sekadar memperpanjang umur industri yang harusnya mulai berbenah?

