[ad_1]
Sleman, MainBerita — Puluhan ibu-ibu di Yogyakarta kembali menggelar aksi memprotes program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pada pelaksanaannya dianggap masih menimbulkan sejumlah kasus keracunan.
Terbaru, kasus keracunan diduga akibat MBG terbaru dialami oleh puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kejadian serupa menimpa 127 siswa dari SMAN 3 dan SMPN 8 Purworejo, Jawa Tengah, Jumat (3/10) hari ini. Sebagian siswa merasa mual, pusing dan muntah 30 menit usai mengonsumsi hidangan MBG. Beberapa siswa korban mengaku trauma menyantap makan bergizi gratis ini lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di DIY dilaporkan ada enam siswa SD daerah Piyaman, Gunungkidul yang harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami mual dan muntah usai menyantap hidangan MBG. Dandim 0730/Gunungkidul, Letkol Inf Roni Hermawan menegaskan perlunya pengecekan sampel makanan guna memastikan penyebab pasti dari apa yang dialami para siswa ini.
Para ibu-ibu turut membawa rantang berisi bekal makanan yang mereka anggap sehat dan membagikannya kepada sesama peserta aksi. Diskusi digelar di lokasi tersebut dengan melibatkan pegiat pangan lokal, aktivis antikorupsi, serta peneliti politik pangan.
“Ibu-ibu mau, anak-anaknya dikasih makan tapi bahannya pakai bahan yang murahan?” kata penulis-aktivis, Kalis Mardiasih, memantik diskusi.
“Giliran keracunan spaghetti, ngomongnya belum terbiasa,” katanya lagi mengkritik penggunaan ultra-processed food (UPF) dalam menu MBG.
“Stop makan beracun gratis!” kata ibu-ibu berbarengan.
Siti Fauziah Saekhoni, seniman yang dikenal lewat film ‘Tilik’ sebagai tokoh Bu Tejo ikut meramaikan aksi kali ini. Dia menyentil pemerintah yang tetap ngotot menggulirkan program MBG, sekalipun kasus keracunan masih terus bermunculan. Apalagi jika sampai program ini dijadikan proyek mencari keuntungan.
“Ini tidak cuma soal nyawa, ini hak dasar sebagai manusia. Saya membayangkan ibu-ibu yang setiap hari menjaga dan merawat anak-anaknya dari kecil, terus menerima program dari pemerintah yang abai terhadap hak kita sebagai manusia,” kata Siti.

