Mainberita Surabaya – Di tengah kepulan asap dan dentuman meriam yang mengguncang bumi, suara lantang seorang pemuda menggelegar dari radio-radio sederhana yang tersebar di sudut-sudut kampung. Dialah Bung Tomo, tokoh yang kini selalu dikenang sebagai simbol keberanian dalam peristiwa heroik 10 November.
Sejarah mencatat, semangat rakyat Surabaya mencapai puncaknya ketika pasukan Sekutu kembali datang dengan misi melucuti senjata Jepang. Namun ultimatum yang meminta rakyat Jawa Timur menyerahkan senjatanya justru memantik gelombang perlawanan. Kota yang dikenal keras itu menolak tunduk.
Di tengah situasi genting, Bung Tomo tampil bukan dengan senjata, melainkan dengan kata-kata. Orasinya yang berapi-api menggema melalui Radio Pemberontakan, membakar jiwa pemuda, santri, hingga pejuang lintas kelompok. Panggilan sederhana namun penuh makna “Merdeka atau mati!” membuat rakyat berdiri tegak mempertahankan tanah air.

