Pertempuran pecah pada 10 November 1945. Ledakan, tembakan, dan pertempuran jarak dekat terjadi di berbagai penjuru kota. Ribuan pejuang gugur, namun keberanian mereka menggemakan pesan kuat kepada dunia: bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan darah dan air mata.
Hari ini, setiap 10 November, Indonesia kembali mengenang semangat itu. Tidak hanya untuk mengingat pertempuran terbesar dalam sejarah kemerdekaan, tetapi juga untuk meneladani keberanian moral Bung Tomo dan para pahlawan tanpa nama yang memilih berjuang meski peluang menang begitu tipis.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang memiliki kekuatan terbesar, melainkan oleh mereka yang memiliki tekad paling membara.

