“Kemarin wilker Kediri itu berada di urutan yang terakhir, karena tahun lalu sudah urutan pertama. Kemarin sudah musyawarah wilker, Tulungagung adalah yang pertama di tingkat wilker ini,” terangnya.
Meski menjadi yang pertama di tingkat karesidenan, secara kumulatif di tingkat Jawa Timur, Tulungagung diprediksi akan mengisi slot kloter-kloter akhir.
“Saya estimasikan Tulungagung berada di sekitar kloter 103, 104, atau 105. Itu perkiraan saya karena se-Jawa Timur total ada 116 kloter,” imbuhnya.
Suryani juga memberikan klarifikasi mengenai rumor penggunaan Bandara Dhoho Kediri sebagai titik keberangkatan. Meski lokasi bandara baru tersebut jauh lebih dekat secara geografis, namun untuk musim haji tahun ini, jamaah Tulungagung dipastikan tetap bertolak melalui Bandara Internasional Juanda di Surabaya.
Hal ini berkaitan erat dengan kesiapan infrastruktur penunjang yang belum memadai di sekitar bandara baru tersebut.
“Memang ada rencana Dhoho itu dipakai. Tapi kemarin terkait dengan asrama, karena asramanya belum punya kan,” jelasnya.
Menyinggung soal masa tunggu (waiting list), masyarakat tampaknya harus lebih bersabar. Kebijakan terbaru dari Kementerian Agama menetapkan bahwa rata-rata antrean haji secara nasional kini telah menyentuh angka puluhan tahun. Terlebih dengan total biaya haji yang mencapai kisaran Rp 93 juta, di mana jamaah harus melakukan pelunasan sekitar Rp 33 juta untuk embarkasi Surabaya.
“Sekarang se-Indonesia sama. Dengan kebijakan dari Pak Menteri Haji ini semuanya 26 tahun,” ucapnya. (dit/ari)

