MainBeritaTulungagung – Rencana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di 2025 menemui jalan buntu. Alih-alih melampaui target, realisasi setoran dari sektor pariwisata justru merosot tajam, bahkan tidak mencapai separuh dari angka yang dipatok.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari target yang dibebankan sebesar Rp 1,4 miliar, Disbudpar hanya mampu menyetorkan realisasi sebesar Rp 698 juta hingga tutup buku Desember 2025 lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa performa sektor pariwisata milik plat merah tersebut hanya menyentuh angka sekitar 47 persen.
Kepala Disbudpar Kabupaten Tulungagung, M. Ardian Candra, tidak menampik adanya ketimpangan yang cukup lebar antara target dan realisasi tersebut. Menurut dia, salah satu faktor determinan yang menjadi alasan utama adalah masifnya konektivitas Jalur Lintas Selatan (JLS).
Alih-alih menjadi jalur distribusi wisatawan menuju titik wisata kelolaan pemkab, JLS justru membuka gerbang lebar bagi wisatawan untuk mengeksplorasi destinasi di luar wilayah administratif Tulungagung.
Candra menjelaskan, bahwa terhubungnya JLS dengan kabupaten tetangga memberikan dampak psikologis dan preferensi baru bagi para pelancong. Dengan akses yang kian mudah, wisatawan cenderung mencari alternatif pemandangan atau destinasi baru yang ditawarkan sepanjang jalur sirip selatan tersebut.
“Kalau 2025 kemarin target kami adalah 1,4 miliar. Untuk realisasinya ada Rp 698 juta. Jadi sekitar 47 persen,” kata dia.
Lebih lanjut, pria ramah ini memaparkan, bahwa posisi geografis wisata Tulungagung kini berada dalam pusaran kompetisi yang ketat. Ketersediaan akses yang mumpuni di jalur JLS, membuat destinasi lama yang tidak melakukan inovasi akan mudah ditinggalkan oleh pengunjung, yang mencari suasana baru di perbatasan kabupaten lain.

