“Kendala untuk target belum terpenuhi yang pertama, yang terkait dengan faktor akses dengan terhubungnya JLS, yang sudah menghubung dari kabupaten lain. Otomatis banyak pilihan dari pengunjung untuk menikmati wisata-wisata yang ada di sekitar jalur JLS,” imbuhnya.
Menyikapi raport merah di 2025, Disbudpar mengklaim telah menyiapkan sejumlah langkah taktis untuk menghadapi musim kunjungan 2026. Fokus utama yang akan digarap adalah melakukan pembenahan internal pada titik-titik wisata yang dinilai mulai usang. Candra menyebut, berdasarkan evaluasi dan rekomendasi yang masuk, perbaikan fasilitas fisik menjadi harga mati jika ingin kembali dilirik wisatawan.
Dia menambahkan, bahwa selain perbaikan fisik, pihaknya juga akan mencoba mendongkrak angka kunjungan melalui skema penyelenggaraan berbagai acara atau event rutin di lokasi wisata. Hal ini diharapkan mampu menjadi pembeda agar wisatawan tidak sekadar “lewat” di jalur JLS, melainkan singgah dan menghabiskan waktu di destinasi wisata milik Tulungagung.
“Upaya tahun ini dari rekomendasi yang kami terima yang pertama adalah, revitalisasi sarana prasarana di tempat wisata. Kemudian peningkatan event-event di tempat wisata tersebut. Harapannya bisa menarik pengunjung ke tempat wisata kami,” terang Candra.
Tak hanya itu, diversifikasi kegiatan di dalam lokasi wisata juga menjadi agenda yang akan digencarkan tahun ini. Pihak dinas berharap dengan adanya variasi kegiatan, tingkat lama tinggal (length of stay) wisatawan bisa meningkat yang berujung pada naiknya retribusi PAD.
“Kemudian yang ketiga ada kegiatan wisata yang ada di lokasi-lokasi wisata tersebut,” ujarnya. (dit/ari)

