Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Kalimat itu sederhana, tapi mengguncang zaman. Ia menjadi jembatan menuju kemerdekaan, sekaligus bukti bahwa kekuatan sejati bangsa ini bukan pada jumlah senjata, tapi pada keyakinan untuk bersatu.
Makna Sumpah Pemuda tidak berhenti di ruang sejarah. Ia adalah pesan abadi bagi generasi muda hari ini, bahwa cinta tanah air harus dihidupkan kembali, dalam bentuk yang relevan dengan zaman: mencintai produk lokal, menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, melawan hoaks yang memecah, dan berkarya untuk negeri tanpa pamrih.
Sumpah Pemuda mengajarkan kita bahwa perjuangan bukan hanya tentang perang, tapi tentang kesadaran. Kesadaran bahwa kita satu bangsa yang harus saling menguatkan, satu tanah air yang harus dijaga, dan satu bahasa yang harus kita banggakan. Kini, hampir seabad berlalu, semangat itu seolah memanggil kembali. Bangsa ini masih butuh pemuda yang berani berpikir, berani bersuara, dan berani berbuat. Bukan sekadar pemuda yang menonton sejarah, tapi yang menulis sejarah baru dengan karya dan tindakan nyata.
“Kalau dulu mereka berjuang dengan pena dan tekad, maka kini kita berjuang dengan karya dan kesadaran.” Sumpah Pemuda bukan hanya tentang masa lalu yang agung, tapi tentang masa depan yang menunggu untuk diperjuangkan. Dan selama di dada anak muda Indonesia masih berkobar cinta tanah air, maka api Sumpah Pemuda tidak akan pernah padam.

