“Yang paling sederhana adalah menjaga jarak. Semakin jauh, semakin kecil intensitas suara yang diterima,” jelasnya.
Ia menyebut bahwa tingkat kebisingan pada sound horeg dapat mencapai 130 desibel (dB), angka yang cukup berisiko bagi pendengaran.
Untuk itu, ia menyarankan jarak aman sejauh 2 kilometer dari titik suara.
“Pertanyaannya adalah, bagaimana melindungi masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam pertunjukan ini?” ujar Fikri.
Dengan pernyataan tersebut, diskusi publik mengenai sound horeg mendapat dimensi baru dari sisi medis dan keselamatan pendengaran.
Pernyataan dokter THT ini turut memperkuat urgensi pengaturan sound horeg secara lebih bijak, agar seni pertunjukan tetap hidup tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar.
Diskusi kini terus bergulir antara para pelaku seni, warga, dan pemerintah daerah untuk mencari titik temu antara ekspresi budaya dan tanggung jawab sosial.

