Mainberita – Emas bukan sekadar perhiasan yang berkilau di etalase toko. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban manusia. Jauh sebelum manusia mengenal uang, saham, atau bahkan tulisan, emas sudah lebih dulu dipuja, bukan hanya karena indah, tapi karena maknanya.
Sekitar 6.000 tahun lalu, manusia purba menemukan sesuatu yang berbeda dari batu dan logam lain. Ia berkilau tanpa dipoles, tak berkarat meski terkubur lama, dan terasa “hidup” saat terkena cahaya matahari. Itulah emas. Sejak saat itu, manusia mulai memberi nilai lebih pada logam berwarna kuning ini.
Di Mesir Kuno, emas dianggap sebagai simbol keabadian. Para firaun percaya bahwa emas adalah “kulit para dewa”, khususnya dewa matahari Ra. Tak heran jika makam raja-raja Mesir dipenuhi emas, bukan untuk pamer, tapi sebagai bekal menuju kehidupan setelah mati. Emas di sini bukan sekadar harta, melainkan keyakinan.
Peran emas semakin nyata ketika dunia memasuki era perdagangan. Sekitar 600 tahun sebelum masehi, bangsa Lydia mencetak koin emas pertama di dunia. Inilah titik balik sejarah emas resmi menjadi alat tukar, standar nilai, sekaligus simbol kekuasaan. Siapa yang menguasai emas, dialah yang berkuasa.

