Ia membantah isu bahwa film ini dibuat kurang dari sebulan. “Post-production itu tahap akhir seperti color grading, suara, dan penyelarasan, bukan mulai dari nol,” jelasnya.
Perjalanan produksi tidak selalu mulus. Endiarto mengaku sulit menemukan animator profesional untuk format film animasi panjang. Upaya bekerja sama dengan beberapa musisi untuk penggarapan musik juga gagal karena masalah biaya.
Merah Putih: One For All bercerita tentang sekelompok anak yang tergabung dalam Tim Merah Putih untuk menjaga bendera pusaka desa menjelang Hari Kemerdekaan. Namun, bendera tersebut hilang, memaksa mereka berpetualang demi menyelamatkan simbol kebanggaan bangsa.
Meski mendapat banyak kritik dari netizen, Endiarto tetap tenang. Ia bahkan sudah mempersiapkan proyek baru bertema Merah Putih untuk HUT RI 2026 dalam format live-action, karena animasi membutuhkan waktu produksi minimal dua tahun.
“Setiap 17 Agustus, kami akan terus berupaya menghadirkan karya bertema Merah Putih,” tutupnya.

