Selain itu, dampak ekonomi juga mulai terasa, terutama di sektor pariwisata dan penerbangan. Meskipun tidak ada laporan kerusakan serius atau korban jiwa, beberapa wisatawan yang telah merencanakan perjalanan ke kawasan Gunung Raung terpaksa membatalkan kunjungan mereka. Petugas juga terus memantau perkembangan cuaca di kawasan tersebut, karena abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pada visibilitas dan penerbangan.
Upaya Penanggulangan dan Mitigasi Bencana
Pemerintah daerah, bersama dengan PVMBG, sudah mengambil langkah-langkah untuk memitigasi dampak dari erupsi ini. Tim evakuasi dan petugas kesehatan dikerahkan ke wilayah yang terpapar abu vulkanik, sementara peringatan kepada masyarakat sekitar Gunung Raung untuk menghindari daerah rawan erupsi terus diperbaharui.
Warga yang tinggal di sekitar zona merah yang berjarak sekitar 5 km dari puncak gunung diminta untuk tetap berada di luar area tersebut. Sementara itu, pihak berwenang terus melakukan pemantauan secara berkala dan akan segera melakukan evakuasi jika diperlukan.
Sejarah Aktivitas Gunung Raung
Gunung Raung dikenal dengan aktivitas vulkaniknya yang sangat fluktuatif. Sejarah letusan gunung ini tercatat sudah sangat lama, dengan beberapa erupsi besar yang terjadi pada abad ke-18 dan 19. Letusan terbaru pada tahun 2015 dan 2024 sempat mengganggu kegiatan penerbangan di kawasan tersebut, dengan kolom abu yang mencapai ketinggian lebih dari 7.000 meter. Aktivitas vulkanik yang intens menunjukkan bahwa Gunung Raung tetap menjadi salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.
Sumber: Diolah

