Ceritanya mengikuti pasangan penjual jamu yang menjadi bahan perbincangan warga karena belum dikaruniai anak.
Melalui pendekatan komedi yang ringan namun penuh makna, Cocote Tonggo menyajikan kritik sosial yang relevan dan membumi.
“Film ini bukan sekadar hiburan. Ia menyentuh kenyataan sosial, tentang tekanan yang datang dari masyarakat dan bagaimana kita bisa menghadapinya—bahkan dengan tawa,” kata Bayu.
Diproduksi oleh Tobali Film dan Skak Studios, film ini mengambil latar di kota Solo dan menggunakan dialog Bahasa Jawa Mataraman, memperkuat unsur lokal yang menjadi ciri khasnya. (*)
1 2

