Pandangan keras Miyazaki terhadap AI sudah dikenal sejak lama. Salah satu contoh paling terkenal terjadi pada 2016, saat ia menyaksikan presentasi dari Dwango Artificial Intelligence Laboratory yang menampilkan animasi makhluk tanpa kepala buatan AI.
Alih-alih terkesan, ia justru mengecam proyek tersebut dan menilai bahwa penciptanya tidak memahami nilai sejati dari kehidupan dan seni.
Tren AI Ghibli ini juga memunculkan perdebatan soal hak cipta. Meski di Jepang karya seni bisa digunakan untuk melatih AI demi kemajuan teknologi, para pakar hukum menilai jika gambar yang dihasilkan terlalu menyerupai karya asli yang dilindungi, maka potensi pelanggaran hak cipta tetap ada.
Namun bagi Miyazaki, ini lebih dari sekadar isu hukum. Ia menekankan bahwa teknologi seperti AI berisiko mengikis makna sejati seni.
Sebagai seniman yang telah puluhan tahun berkarya dengan penuh jiwa, ia meyakini bahwa kreativitas manusia tetap tak tergantikan oleh mesin. (*)

