Menurutnya, dengan dana sekitar Rp7 miliar (dipotong pajak menjadi sekitar Rp6 miliar), hasil akhirnya tetap jauh dari standar film animasi.
“Budget animasi itu minimal Rp30–40 miliar di luar biaya promosi dan dikerjakan selama 4–5 tahun,” jelasnya. Ia menilai dengan dana Rp6 miliar, film baru bisa sampai tahap previs atau storyboard berwarna yang digunakan sebagai panduan animator.
Hanung menggambarkan hasilnya ibarat rumah yang belum diplester dan lantainya masih kasar. Hal ini dikhawatirkan membuat penonton sulit menerima kualitas film tersebut.
Film Merah Putih: One For All sendiri diproduksi oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, dengan sutradara Endiarto dan Bintang Takar. Karya ini direncanakan menjadi bagian dari perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. (*)

