MAINBERITA — Menahan lapar dan dahaga ternyata bukan sekadar praktik masa kini. Jauh sebelum dunia modern mengenal kalender ibadah, tradisi berpuasa sudah hidup dalam denyut peradaban manusia sejak ribuan tahun silam.
Catatan sejarah menunjukkan, praktik menahan makan dan minum telah dilakukan masyarakat kuno sebagai bagian dari ritual penyucian diri. Di sejumlah peradaban awal, puasa dijalankan para pendeta dan pemuka adat sebelum memimpin upacara sakral. Mereka percaya, tubuh yang “dikosongkan” membuat batin lebih jernih dan fokus dalam menjalankan tugas spiritual maupun sosial.
Tak hanya itu, kalangan pemikir dan filsuf zaman dahulu juga mempraktikkan puasa. Bagi mereka, membatasi asupan fisik diyakini mampu mempertajam pikiran, memperkuat konsentrasi, dan menjaga keseimbangan emosi.
Dari Ritual Sakral ke Tradisi Sosial
Memasuki era peradaban yang lebih maju, puasa tidak lagi terbatas di ruang-ruang ritual. Ia berkembang menjadi tradisi kolektif masyarakat.
Di berbagai belahan dunia, puasa dilakukan menjelang perayaan besar, pergantian musim, hingga masa berkabung. Praktik ini kerap dimaknai sebagai bentuk penghormatan, pengendalian diri, sekaligus solidaritas sosial.
Beberapa komunitas bahkan menjadikan puasa sebagai sarana “reset kehidupan” — momen untuk mengevaluasi diri, memperbaiki perilaku, dan memperkuat hubungan antarsesama.
Dimensi Kesehatan yang Baru Disadari

