Mainberita – Memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) atau angpao Lebaran kepada anak-anak sudah menjadi tradisi yang melekat dalam perayaan Idul Fitri.
Namun, di zaman sekarang, nominal THR Rp10 ribu yang dulunya dianggap cukup bernilai, kini sering kali dipandang sebelah mata. Padahal, esensi dari pemberian THR adalah berbagi dengan ikhlas, bukan soal nominalnya.
Lantas, mengapa THR Rp10 ribu kini dianggap remeh? Apakah ini semata karena perubahan nilai uang, atau ada faktor lain yang memengaruhi cara pandang masyarakat?
1. Perubahan Nilai Uang dan Kenaikan Harga Barang
Salah satu alasan utama mengapa THR Rp10 ribu kini dianggap kecil adalah inflasi. Nilai uang terus menurun seiring berjalannya waktu, sehingga harga barang-barang kebutuhan juga semakin mahal.
Jika dulu dengan Rp10 ribu seorang anak bisa membeli banyak jajanan atau mainan kecil, sekarang jumlah tersebut mungkin hanya cukup untuk membeli satu atau dua makanan ringan.
Sebagai contoh, pada tahun 2000-an, uang Rp10 ribu bisa digunakan untuk membeli beberapa bungkus permen, minuman kemasan, atau bahkan satu porsi makanan di warung.
Namun, di tahun 2020-an, harga barang-barang tersebut sudah meningkat drastis, sehingga anak-anak merasa bahwa uang yang mereka terima tidak cukup bernilai.
2. Pengaruh Gaya Hidup dan Tren di Masyarakat
Gaya hidup yang semakin konsumtif juga berperan dalam mengubah cara pandang terhadap uang. Di era digital dan media sosial, anak-anak semakin terbiasa melihat barang-barang mahal sebagai standar kebahagiaan.
Mainan, gadget, atau makanan di restoran cepat saji kini menjadi hal yang biasa bagi mereka, sehingga Rp10 ribu terasa tidak cukup untuk memenuhi keinginan mereka.

