Selain itu, media sosial juga berperan dalam membentuk ekspektasi yang lebih tinggi terhadap pemberian THR. Ketika anak-anak melihat teman-temannya memamerkan uang THR dalam jumlah besar di media sosial, mereka mungkin mulai membandingkan dan merasa bahwa uang Rp10 ribu yang mereka terima terlalu sedikit.
3. Perbandingan dengan THR dari Orang Lain
Dalam lingkungan keluarga besar atau masyarakat, sering kali terjadi perbandingan nominal THR yang diberikan oleh berbagai orang. Jika ada kerabat yang memberi Rp50 ribu atau Rp100 ribu, maka uang Rp10 ribu pun terasa kecil di mata anak-anak. Padahal, bagi sebagian orang, memberikan THR dalam jumlah besar tidak selalu mudah, terutama jika mereka harus membagikannya kepada banyak anak.
Perbandingan ini sering kali tidak disadari oleh anak-anak, tetapi sangat memengaruhi cara mereka menghargai pemberian orang lain. Jika mereka terbiasa menerima jumlah besar dari satu pihak, mereka bisa saja menganggap pemberian yang lebih kecil sebagai sesuatu yang tidak berarti.
4. Esensi THR yang Mulai Dilupakan
Salah satu hal yang paling disayangkan adalah bahwa makna asli dari THR mulai tergeser oleh fokus pada nominal. Awalnya, THR diberikan sebagai simbol berbagi kebahagiaan di hari raya, tanpa harus terikat pada jumlah tertentu. Namun, karena faktor-faktor di atas, pemberian THR kini sering kali diukur dari besar kecilnya nominal, bukan dari niat baik di baliknya.
Padahal, dalam Islam, berbagi di hari raya bukanlah tentang jumlah uang yang diberikan, melainkan tentang ketulusan dan kepedulian terhadap sesama. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk selalu bersyukur atas rezeki yang diterima, sekecil apa pun itu.
5. Bagaimana Sebaiknya Kita Menyikapi Hal Ini?
Jika THR Rp10 ribu dianggap remeh di zaman sekarang, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar nilai dan maknanya tetap terjaga:
- Mengajarkan Anak tentang Rasa Syukur – Orang tua bisa mendidik anak-anak agar lebih menghargai pemberian orang lain, berapa pun jumlahnya. Mereka perlu memahami bahwa yang terpenting adalah niat berbagi, bukan nominal uangnya.
- Memberi dalam Bentuk Lain – Selain uang tunai, kita juga bisa memberi THR dalam bentuk barang seperti snack, mainan kecil, atau buku yang lebih bermanfaat bagi anak-anak.
- Mengedepankan Kebersamaan – Alih-alih fokus pada jumlah uang, sebaiknya kita lebih menekankan makna silaturahmi dan kebersamaan saat Lebaran. Mengajak anak-anak untuk memahami makna berbagi bisa membuat mereka lebih menghargai setiap pemberian.
- Meningkatkan Nominal Sesuai Kemampuan – Jika memungkinkan, kita bisa menyesuaikan nominal THR dengan perkembangan zaman agar tetap relevan dengan kebutuhan anak-anak saat ini. Namun, hal ini tetap harus dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
THR Rp10 ribu yang dulu dianggap cukup bernilai kini sering kali dianggap remeh karena faktor inflasi, perubahan gaya hidup, serta perbandingan sosial di lingkungan sekitar. Namun, esensi dari pemberian THR sebenarnya bukan terletak pada jumlah uangnya, melainkan pada niat berbagi dan kebahagiaan yang dibawa di hari raya.
Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk tetap menanamkan nilai-nilai syukur dan kebersamaan dalam tradisi THR, agar maknanya tidak tergantikan oleh sekadar nominal.
Sebab, kebahagiaan Idul Fitri sejatinya bukan tentang uang yang diterima, tetapi tentang kasih sayang, silaturahmi, dan kepedulian terhadap sesama. (*)

