Orang tua pun bisa lebih tenang. Anaknya tetap makan nasi, tapi masakan ibu sendiri di rumah. Kandungan gizinya bisa diatur sesuai selera, kebersihan terjamin, dan uang belanja tidak terlalu berat. Program seperti ini juga memberi ruang bagi petani lokal, karena permintaan beras tetap stabil, bahkan bisa naik karena harga diatur lebih ramah di pasar rakyat.
Dan kalau mau jujur, subsidi beras jauh lebih efektif dibanding subsidi BBM. Kenapa? Karena yang paling banyak makan nasi adalah rakyat kecil, tukang bangunan, buruh tani, pedagang keliling, dan keluarga sederhana. Orang kaya malah sering diet karbo, ganti nasi dengan salad atau roti gandum. Jadi, menurunkan harga beras adalah bentuk subsidi yang benar-benar menyentuh perut rakyat.
Pada akhirnya, ini bukan soal menolak program pemerintah, tapi soal efisiensi dan rasa aman. Program Makan Bergizi Gratis itu baik, namun dalam pelaksanaannya, banyak celah. Sementara beras murah adalah kebutuhan universal yang tidak menimbulkan risiko baru. Kadang, rakyat kecil hanya ingin yang sederhana: makan tenang tanpa rasa khawatir, bukan makan gratis tapi takut sakit.
Kalimat bijaknya adalah “Kadang gizi terbaik bukan dari dapur negara, tapi dari tangan ibu yang ada di rumah”.

