Sayangnya, jalan padel menuju “olahraga rakyat” masih panjang. Membangun lapangan padel butuh biaya besar, dinding kaca, lantai khusus, pencahayaan, dan lahan luas. Akibatnya, harga sewa lapangan juga tidak murah. Untuk banyak orang, padel masih terlihat “olahraga orang berada”. Kalau aksesnya tak diperluas, padel bisa bernasib sama seperti squash: keren di awal, tapi perlahan tenggelam karena tidak bisa menjangkau semua lapisan masyarakat.
Padel sebenarnya punya semua unsur untuk bertahan lama: seru, sosial, dan menantang. Ia tak sekompetitif tenis, tapi juga tak sekadar olahraga ringan. Cocok untuk siapa saja yang ingin bergerak tapi tetap bergaya.
Jika komunitas, pelatih, dan pengusaha padel di Indonesia bisa membangun sistem kompetisi yang berkelanjutan—turnamen berseri, pelatihan, hingga kerja sama dengan sektor pariwisata—maka padel bisa melangkah jauh. Ia bisa jadi “ikon baru sport tourism” yang memadukan gaya, kesehatan, dan wisata.
Kesimpulan: Padel Bukan Sekadar Tren, tapi Cerminan Zaman
Padel adalah cerminan dari cara baru masyarakat berolahraga: ingin sehat, tapi tetap sosial; ingin kompetitif, tapi tetap bergaya.
Apakah padel akan bertahan lama? Jawabannya tergantung: apakah kita membiarkannya jadi tren media sosial, atau menjadikannya fondasi baru dalam dunia sport tourism Indonesia. Kalau pilihan kedua yang diambil maka padel akan lebih dari sekadar raket dan kaca. Ia akan jadi simbol bagaimana olahraga, gaya hidup, dan wisata bisa menyatu dalam satu permainan yang seru. Padel akan bertahan selama kita mau memainkannya bukan hanya untuk gaya, tapi untuk tujuan. Karena pada akhirnya, yang membuat olahraga bertahan bukan sekadar tren, tapi arah yang dituju.

