Berani bersatu di atas perbedaan.
Berani bermimpi untuk kemajuan bangsa.
Berani bertindak meski dimulai dari langkah kecil.
Kini, di era digital dan dunia serba cepat, tantangannya memang berbeda. Kita tak lagi berperang melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan penyakit baru bernama apatisme, rasa cuek terhadap bangsa sendiri. Tapi sejarah 1928 mengajarkan bahwa setiap perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil di hati para pemuda. Sumpah Pemuda bukan hanya upacara, bukan pula teks hafalan di sekolah. Ia adalah api yang harus terus dijaga, agar bangsa ini tidak kehilangan arah dan semangat juangnya.
“Jika dulu mereka berani menyatukan bangsa di bawah bayang-bayang penjajahan, maka hari ini kita tak boleh kalah berjuang di bawah bayang-bayang kemalasan.”
Mari warisi semangat itu, bukan dengan kata-kata, tapi dengan karya. Karena Indonesia tidak akan maju hanya oleh ingatan terhadap sejarah, tapi oleh generasi muda yang berani menulis sejarah baru.

