Mainberita – Menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idulfitri, denyut ekonomi masyarakat selalu bergerak lebih cepat dari biasanya. Pusat perbelanjaan ramai, pasar tradisional padat, dan satu sudut yang tak pernah sepi dari perhatian adalah etalase toko emas. Kilau kuning yang terpancar dari balik kaca seakan punya magnet tersendiri — memanggil orang datang, melihat, lalu membeli.
Fenomena meningkatnya kebutuhan perhiasan emas jelang Lebaran bukan cerita baru. Ia berulang setiap tahun, menjadi semacam tradisi tak tertulis dalam siklus konsumsi masyarakat muslim, termasuk di Indonesia.
Hari Raya Idulfitri bukan sekadar momentum spiritual, tapi juga sosial. Setelah sebulan berpuasa, masyarakat merayakan kemenangan dengan berkumpul, bersilaturahmi, dan tentu saja tampil maksimal.
Busana baru sudah seperti “ritual wajib”. Namun bagi banyak orang, busana saja belum cukup. Perhiasan emas menjadi pelengkap yang menyempurnakan penampilan.
Kalung, gelang, cincin, hingga anting menjadi simbol kepercayaan diri. Bukan semata soal gengsi, tapi juga ekspresi kebahagiaan. Lebaran adalah hari istimewa — dan orang ingin terlihat istimewa.
THR Cair dan ketika dana segar masuk ke rekening, pola belanja masyarakat langsung berubah. Sebagian dialokasikan untuk kebutuhan pokok, sebagian untuk mudik, dan tidak sedikit yang “diparkir” dalam bentuk emas.
Lembaga pembiayaan seperti PT Pegadaian pun hampir tiap tahun mencatat kenaikan transaksi emas — baik pembelian maupun cicilan — menjelang Idulfitri.

