Emas dipilih karena nilainya bukan hanya materi, tapi juga emosional. Ia tahan lama, bisa diwariskan, dan sering kali menyimpan cerita keluarga.
Tak heran jika logam mulia produksi Antam maupun perhiasan toko lokal sama-sama laris menjelang hari raya.
Antara Tradisi dan Investasi. Menariknya, masyarakat Indonesia membeli emas tidak selalu dengan motif konsumtif. Ada kesadaran investasi yang tumbuh. Banyak pembeli datang dengan dua niat: “Dipakai pas Lebaran, habis itu disimpan.” Perhiasan emas akhirnya berada di persimpangan unik — antara gaya hidup dan strategi keuangan.
Pada akhirnya, perhiasan emas di momen Idulfitri bukan sekadar soal kemewahan. Ia adalah pertemuan antara tradisi, kebahagiaan, dan rasa syukur.
Orang membeli emas bukan hanya untuk terlihat kaya, tapi untuk merayakan momen kemenangan dengan cara terbaik yang mereka mampu.
Karena di Hari Raya, kebahagiaan memang sering kali menemukan bentuknya — salah satunya dalam kilau sederhana di pergelangan tangan.

