27.8 C
Tulungagung
Friday, April 10, 2026
Home Opini Ketika Perhiasan Emas Jadi Simbol Bahagia Hari Raya

Ketika Perhiasan Emas Jadi Simbol Bahagia Hari Raya

Mainberita – Menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idulfitri, denyut ekonomi masyarakat selalu bergerak lebih cepat dari biasanya. Pusat perbelanjaan ramai, pasar tradisional padat, dan satu sudut yang tak pernah sepi dari perhatian adalah etalase toko emas. Kilau kuning yang terpancar dari balik kaca seakan punya magnet tersendiri — memanggil orang datang, melihat, lalu membeli.

Fenomena meningkatnya kebutuhan perhiasan emas jelang Lebaran bukan cerita baru. Ia berulang setiap tahun, menjadi semacam tradisi tak tertulis dalam siklus konsumsi masyarakat muslim, termasuk di Indonesia.

Hari Raya Idulfitri bukan sekadar momentum spiritual, tapi juga sosial. Setelah sebulan berpuasa, masyarakat merayakan kemenangan dengan berkumpul, bersilaturahmi, dan tentu saja tampil maksimal.

Baca Juga  Viral Tagar #BoikotTrans7 Jadi Alarm Penting Bagi Dunia Penyiaran

Busana baru sudah seperti “ritual wajib”. Namun bagi banyak orang, busana saja belum cukup. Perhiasan emas menjadi pelengkap yang menyempurnakan penampilan.

Kalung, gelang, cincin, hingga anting menjadi simbol kepercayaan diri. Bukan semata soal gengsi, tapi juga ekspresi kebahagiaan. Lebaran adalah hari istimewa — dan orang ingin terlihat istimewa.

THR Cair dan ketika dana segar masuk ke rekening, pola belanja masyarakat langsung berubah. Sebagian dialokasikan untuk kebutuhan pokok, sebagian untuk mudik, dan tidak sedikit yang “diparkir” dalam bentuk emas.

Lembaga pembiayaan seperti PT Pegadaian pun hampir tiap tahun mencatat kenaikan transaksi emas — baik pembelian maupun cicilan — menjelang Idulfitri.

Emas dipilih karena nilainya bukan hanya materi, tapi juga emosional. Ia tahan lama, bisa diwariskan, dan sering kali menyimpan cerita keluarga.

Baca Juga  Dari Makan Bergizi Gratis ke Beras Murah : Logika Sederhana dari Perut yang Cemas

Tak heran jika logam mulia produksi Antam maupun perhiasan toko lokal sama-sama laris menjelang hari raya.

Antara Tradisi dan Investasi. Menariknya, masyarakat Indonesia membeli emas tidak selalu dengan motif konsumtif. Ada kesadaran investasi yang tumbuh. Banyak pembeli datang dengan dua niat: “Dipakai pas Lebaran, habis itu disimpan.” Perhiasan emas akhirnya berada di persimpangan unik — antara gaya hidup dan strategi keuangan.

Pada akhirnya, perhiasan emas di momen Idulfitri bukan sekadar soal kemewahan. Ia adalah pertemuan antara tradisi, kebahagiaan, dan rasa syukur.

Orang membeli emas bukan hanya untuk terlihat kaya, tapi untuk merayakan momen kemenangan dengan cara terbaik yang mereka mampu.

Baca Juga  Sering Konvoi dan Anarkis, Apa Sebenarnya Fungsi dari Perguruan Silat PSHT untuk Masyarakat?

Karena di Hari Raya, kebahagiaan memang sering kali menemukan bentuknya — salah satunya dalam kilau sederhana di pergelangan tangan.