“Saya bilang sebentar, saya akan keluar sebentar, saya meminta bantuan dari teman anestesi pertama untuk memberikan obat nyeri yang kuat dan bisa memberikan terapi cairan,” ujarnya.
Larona menegaskan bahwa dalam situasi darurat, prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa, bukan anggota tubuh. Menurutnya, keputusan amputasi di tempat menjadi langkah medis yang tak terhindarkan.
Setelah peralatan dan tenaga tambahan tiba, Larona bersama rekannya dan dokter anestesi kembali masuk ke dalam reruntuhan bangunan tempat korban terjebak. Ruang sempit membuat mereka hanya bisa bekerja bergantian.
Kondisi pasien yang mengalami syok membuat mereka harus memilih obat bius yang tidak membuat kondisi pasien semakin menurun.
“Saya memberikan obat-obatan melalui otot saya tusuk di pundak dari pasien ini dan setelah dievaluasi pasien sudah terbius dan tidak nyeri maka operasi saya minta untuk segera dilakukan seperti itu,” kata salah satu tim dokter yang ikut melakukan operasi di tempat.
Proses amputasi berlangsung dengan segala keterbatasan alat dan ruang gerak. Larona menginstruksikan pemotongan di bagian sendi agar proses lebih cepat dan minim risiko.
Meski dilakukan di bawah tekanan dan risiko tinggi, tindakan itu berhasil menyelamatkan nyawa korban.
Setelah selesai korban dibawa untuk mendapatkan perawatan di RSUD RT Notopuro. Kondisi korban kini sudah berangsur membaik dan dalam perawatan.
Sampai malam ini jumlah korban tewas bangunan Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo mencapai 13 orang. Mereka sudah berhasil dievakuasi dari dalam reruntuhan.
Dengan demikian masih ada sekitar 50 korban yang diduga tertimbun dalam reruntuhan gedung tiga lantai tersebut. Proses pencarian kini sudah menggunakan alat berat.

