Lari di jalan raya, di gunung, atau di tepi laut, semuanya punya makna masing-masing. Jalan raya mengajarkan kesabaran, gunung mengajarkan keteguhan, dan laut mengajarkan kebebasan. Ketiganya berpadu jadi meditasi panjang yang disebut lari kehidupan.
Pelari sejati tahu, semakin jauh ia berlari, semakin ia mengenal dirinya sendiri. Rasa sakit di betis, panas di dada, dan peluh di wajah, semuanya berubah jadi bahasa tubuh yang mengatakan: “Aku masih hidup, aku masih berjuang.”
Maka, jangan heran kalau ada yang bilang lari itu candu. Karena di setiap kilometer yang ditempuh, ada satu beban yang lepas. Di setiap tanjakan yang ditaklukkan, ada satu keraguan yang luruh.
Kadang, kedamaian bukan ditemukan di tempat sunyi. Tapi di tengah langkah cepat, di antara degup jantung, dan di bawah langit luas yang menemani kita berlari entah di jalan raya, di kaki gunung, atau di tepi laut.

