Awalnya sekolah ini berdiri di Violenweg 13, Den Haag, sebelum akhirnya pindah ke lokasi permanen di Rijksstraatweg 679, Wassenaar, dan diresmikan pada 17 Agustus 1965 — bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI. Perpindahan itu menandai babak baru: Indonesia memiliki tempat resmi untuk mendidik anak-anak perwakilan, diaspora, dan warga Indonesia di Eropa dengan kurikulum nasional yang tetap berjiwa nusantara.
Kini SIDH menjadi simbol diplomasi pendidikan Indonesia di Eropa. Tak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai kebangsaan, budaya, dan karakter Indonesia. Di tengah hiruk pikuk dunia internasional, SIDH menjaga agar bahasa Indonesia, lagu kebangsaan, dan semangat gotong royong tak pernah padam.
Loyalitas yang Tak Terukur oleh Waktu. Bagi banyak siswa dan guru di SIDH, sosok Mulyono bukan sekadar petugas. Ia adalah “penjaga semangat,” orang yang memastikan semua berjalan baik, dari pagi hingga senja. Saat musim dingin menggigit, ia memastikan ruang kelas tetap hangat. Saat musim panas datang, ia menjaga halaman tetap rapi, seolah sekolah itu bagian dari rumahnya sendiri.

Meski jauh dari kampung halaman di Tulungagung, Mulyono tak pernah kehilangan jati diri. Dalam setiap langkahnya, ada nilai kesetiaan, kesederhanaan, dan cinta terhadap Indonesia.
“Kalau saya rindu kampung, saya lihat anak-anak di sini menyanyikan Indonesia Raya. Rasanya seperti pulang,” ujarnya dengan senyum yang tulus.
Loyalitas Mulyono mencerminkan semangat yang sering kali terlupakan — bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari jabatan atau gelar, melainkan dari ketulusan menjaga sesuatu yang kita cintai. Dalam dirinya, kita melihat wajah Indonesia: sederhana, ulet, dan setia pada nilai-nilai luhur.
Sekolah Indonesia Den Haag boleh jadi berdiri di tanah Belanda, tetapi berkat orang-orang seperti Mulyono, jiwa Indonesia tetap hidup di setiap sudutnya.

