Ada ratusan burung Perkutut Bangkok di kandang yang berada di belakang rumahnya.
Dia menjelaskan bahwa sepasang Perkutut Bangkok bisa bertelur 2-3 kali dalam setahun. Satu kali bertelur biasanya menghasilkan dua anakan.
Tetapi, lanjut dia, tidak semua anakan burung perkutut bisa memiliki kualitas yang bagus. Meski indukannya berkualitas bagus.
“Presentasinya mungkin hanya 20-30 persen anakan yang berkualitas dari seluruh anakan di kandang,” katanya.
Dengan itu, maka anakan perkutut bangkok memiliki harga yang berbeda-beda.
Jika kualitasnya bagus, harganya bisa mencapai Rp 500 ribu bahkan jutaan rupiah.
Dan untuk burung yang kurang berkualitas, dibanderol 20 sampai 50 ribu saja. Biasanya diambil oleh tengkulak dan dijual di pasar burung.
“Kalau yang kualitasnya bagus biasanya saya kirim ke luar kota, ada juga penghobi dari dalam Tulungagung yang datang untuk membeli,” bebernya.
Usaha burung perkutut bangkok ini bukan tanpa tantangan.
Mahmud membeberkan bahwa kondisi pasar sangat susah ditebak. Kadang permintaan banyak, kadang juga sepi.
“Karena burung perkutut kan untuk memenuhi hobi masyarakat. Kalau lagi booming, permintaan banyak dan harganya juga bagus,” katanya.
“Tetapi kalau lagi tidak booming, permintaan sedikit dan harganya pun seret,” sambung dia.
Permintaan terbanyak burung perkututnya malah terjadi saat pandemi Covid-19 yang lalu.
Itu terjadi karena penghobi butung perkutut bertambah dan burung itu sempat booming di masyarakat.
“Kalau sekarang cenderung landai. Kalau permintaan yang paling banyak ya saat Covid lalu,” tutupnya. ***

