Oleh: Yan Christanto
Mainberita – Ketika nama Marsinah disebut, ingatan publik seolah menelusuri kembali lembar gelap perjuangan kaum buruh Indonesia pada awal 1990-an, masa ketika suara keadilan sering dibungkam oleh kekuasaan. Ia bukan tokoh politik, bukan pula pemimpin besar. Marsinah hanyalah seorang buruh pabrik arloji di Sidoarjo yang berani bersuara melawan ketidakadilan. Namun dari tangannya yang sehari-hari memegang mesin produksi, lahirlah simbol keberanian yang mengguncang tembok kekuasaan.
Tiga dekade telah berlalu sejak tubuhnya ditemukan tak bernyawa di hutan Wilangan, Nganjuk, pada Mei 1993. Luka di tubuhnya menjadi saksi bisu betapa mahal harga keberanian bagi rakyat kecil di negeri ini. Namun hari ini, sejarah akhirnya menulis babak yang lebih adil, Marsinah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Gelar itu bukan sekadar penghormatan, melainkan pemulihan martabat. Selama bertahun-tahun, nama Marsinah hidup di tengah rakyat sebagai lambang perlawanan terhadap penindasan, terutama terhadap buruh perempuan. Kini, negara pun mengakui bahwa perjuangannya bukan bentuk pembangkangan, melainkan panggilan nurani untuk menegakkan hak.
Marsinah telah menembus batas kelas sosial dan gender. Ia membuktikan bahwa perjuangan buruh bukan sekadar tentang upah, tetapi tentang harga diri manusia. Dalam diamnya makam Marsinah, semangatnya terus tumbuh di setiap tangan buruh yang menuntut keadilan, di setiap ruang pabrik yang menuntut kesetaraan, dan di setiap perempuan yang menolak dibungkam.
Maka, ketika gelar Pahlawan Nasional akhirnya diberikan, bangsa ini seakan berhutang kata “maaf” sekaligus “terima kasih”.
Maaf, karena pengorbananmu terlalu lama dibiarkan tanpa pengakuan.
Terima kasih, karena keberanianmu telah menyalakan obor kesadaran bagi generasi sesudahmu.
Marsinah telah gugur, tetapi semangatnya tak pernah padam.
Ia kini abadi bukan hanya di prasasti penghargaan, tetapi di hati setiap insan yang percaya bahwa keadilan adalah hak semua manusia, bukan hak segelintir penguasa.

