Dari sinilah muncul istilah “horeg” yang belakangan merujuk pada suasana pecah, heboh, dan ramai.
Di banyak daerah Jawa Timur seperti Lamongan, Tuban, dan Blitar, sound horeg menjadi magnet hiburan rakyat di momen penting:
- Hajatan pernikahan
- Syukuran panen
- Hiburan malam tahun baru
- Festival musik rakyat
Acara semacam ini bukan hanya panggung musik, tetapi juga ruang silaturahmi warga, ajang bakat lokal, dan pasar bagi pedagang kaki lima.
Meski banyak digemari, sound horeg sering dikritik karena kebisingannya. Beberapa daerah mulai menerapkan batas jam operasi, izin keramaian, dan aturan volume demi menjaga ketertiban.
Pemerintah desa dan tokoh masyarakat juga mengimbau agar tradisi ini tetap lestari tanpa menimbulkan konflik dengan tetangga.
Dari desa-desa di Bojonegoro dan kawasan Pantura Jawa Timur, sound horeg tumbuh menjadi ikon hiburan rakyat Jawa. Ia lahir dari kreativitas warga desa, berkembang dengan semangat gotong royong, dan kini bahkan viral di media sosial.
Hiburan ini adalah bukti bahwa teknologi sederhana pun bisa menghidupkan kebersamaan, asalkan diatur bijak, tidak merugikan, dan tetap menjaga adab sosial.

