Masyarakat nelayan Blitar meyakini bahwa laut selatan bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga alam yang perlu dihormati agar tetap membawa berkah dan tidak mendatangkan bencana.
Larung Sesaji biasanya melibatkan sesajen berupa tumpeng, hasil bumi, dan kepala hewan ternak yang dilarung ke laut. Hal ini merupakan simbol pengembalian sebagian rezeki kepada alam.
Dalam kepercayaan tradisional Jawa, terutama yang masih kental dengan unsur animisme dan kejawen, laut selatan dianggap sebagai wilayah kekuasaan makhluk halus seperti Nyai Roro Kidul, meski tidak semua daerah memaknai secara sama.
Meski zaman terus berkembang, tradisi ini tetap dipertahankan dan bahkan menjadi agenda budaya tahunan di berbagai daerah. Tidak hanya berfungsi secara spiritual, Larung Sesaji kini juga menjadi daya tarik wisata budaya, ajang promosi lokal, dan sarana mempererat solidaritas warga pesisir.
Jadi, meskipun Blitar bukan satu-satunya daerah asal Larung Sesaji, daerah ini merupakan salah satu pusat penting dalam pelestarian tradisi tersebut di Jawa Timur. Blitar bersama kota-kota pesisir lainnya mewarisi tradisi ini sebagai simbol kuat hubungan manusia, alam, dan spiritualitas lokal.

