3. Merasa Tidak Diberi Ruang
Banyak penggemar sound horeg menganggap bahwa pemerintah dan masyarakat umum terlalu cepat menghakimi tanpa memberi ruang untuk berdialog atau menyediakan alternatif hiburan yang lebih sesuai. Mereka merasa termarjinalkan dan akhirnya justru semakin menolak aturan yang dirasa tidak memihak mereka.
4. Reaksi terhadap Stigma Negatif
Sebutan seperti “tidak berpendidikan”, “SDM rendah”, atau “gangguan masyarakat” memicu reaksi keras dari para penggemar. Bagi mereka, kritik semacam ini tidak adil dan merendahkan martabat.
Alih-alih membuat mereka berhenti, hinaan justru memunculkan perlawanan dan dorongan untuk semakin menunjukkan eksistensi.
Alih-alih memadamkan sound horeg dengan pendekatan represif, barangkali diperlukan dialog terbuka dan pendekatan berbasis komunitas.
Pemerintah daerah bisa mengarahkan sound horeg ke acara-acara resmi dengan pengawasan jam dan volume tertentu. Dengan begitu, budaya ini tetap hidup tanpa harus merugikan masyarakat lain.

