Mainberita – Di tengah dunia yang makin digital—uang elektronik, kripto, hingga aset berbasis algoritma—pertanyaan ini wajar muncul: apakah emas masih relevan, atau hanya nostalgia masa lalu?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana ya atau tidak.
Emas sudah bertahan ribuan tahun bukan karena tren, tapi karena kepercayaan. Saat kerajaan runtuh, mata uang berganti, bahkan negara bubar, emas tetap bernilai. Ia tidak butuh server, tidak tergantung listrik, dan tak bisa dihapus dengan satu klik. Di situlah kekuatan emas: ia berdiri di luar sistem, tapi selalu diakui sistem.
Namun zaman berubah. Generasi baru tak lagi menyimpan emas di peti, melainkan di grafik aplikasi. Kripto menawarkan kecepatan, transparansi, dan janji kebebasan finansial. Saham dan aset digital memberi imbal hasil yang tak bisa ditandingi emas dalam jangka pendek. Di mata sebagian orang, emas terlihat lambat, berat, dan “kurang keren”.
Meski begitu, setiap kali dunia goyah, krisis global, perang, inflasi, atau ketidakpastian politik emas selalu kembali dicari. Bank sentral masih menyimpannya. Investor besar masih meliriknya. Bahkan negara-negara besar justru menambah cadangan emas saat dunia tidak baik-baik saja. Ini sinyal penting: emas mungkin tidak paling agresif, tapi paling dipercaya.

