Di antara penonton, David, seorang warga Muslim asal Wlingi, mengaku menikmati pawai ini bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ritual yang sarat makna dan memiliki nilai seni tinggi.
Rangkaian perayaan akan mencapai puncaknya pada 30 Maret 2025 dengan pelaksanaan Catur Brata Nyepi, di mana umat Hindu akan berpuasa selama 24 jam dalam keheningan total, tanpa aktivitas, suara, atau cahaya. Setelahnya, mereka akan melaksanakan ngempak geni atau nglebar geni sebagai simbol kembalinya kehidupan setelah perenungan mendalam.
Meski jumlah peserta tahun ini berkurang, kemeriahan pawai tetap terasa. Kehadiran berbagai komunitas lokal yang mendukung acara ini memastikan bahwa tradisi pawai ogoh-ogoh terus lestari di tengah modernisasi. (*)

