Namun tak sedikit pula yang kecewa berat dengan akhir cerita ini. Banyak penonton merasa kematian Player 456 adalah keputusan yang berlebihan dan tidak memuaskan. Kritik paling sering muncul di antaranya:
- Menghancurkan harapan fans: Banyak yang berharap Player 456 bisa bertahan hingga akhir atau bahkan menghancurkan sistem dari dalam.
- Terlalu drama: Ada yang menganggap pengorbanan demi bayi terlalu “sinetron” dan kurang logis dalam konteks permainan.
- Menutup karakter kuat: Kematian Player 456 dianggap membunuh potensi cerita lanjutan yang lebih menarik.
“Setelah 3 season ngikutin perjuangannya, Player 456 malah mati? Ngapain nonton dari awal kalau akhirnya begitu?” – @dramasurvivor (TikTok)
Tak butuh waktu lama, tagar seperti #SquidGame3Finale, #RIPPlayer456, dan #JusticeForGiHun langsung jadi trending di Twitter/X, TikTok, dan Instagram setelah episode terakhir tayang. Di TikTok, video reaksi dan review ending sudah ditonton jutaan kali hanya dalam 24 jam.
Beberapa komentar viral:
- “Kematian paling mulia sekaligus paling menyakitkan. Keren banget penulisnya!”
- “Squid Game officially broke my heart 💔.”
- “Kalau tahu ending-nya gini, mending nonton ulang season 1 aja. Biar Player 456 tetap hidup di hati.”
Ending Squid Game Season 3 jelas bukan pilihan aman. Kematian Player 456 memang menimbulkan pro kontra, tapi justru itulah yang membuat serial ini kembali diperbincangkan hangat. Apakah ini penutup akhir dari kisah Gi-hun, atau justru awal dari cerita baru tentang perjuangan generasi selanjutnya?
Yang jelas, Squid Game sekali lagi membuktikan bahwa ia bukan hanya tontonan, tetapi fenomena budaya yang mengguncang emosi dan kesadaran sosial.

