Mainberita – Nama Purbaya Yudhi Sadewa tiba-tiba ramai di berbagai lini masa. Sejak resmi menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025, publik seperti menemukan “wajah baru” dari sosok teknokrat yang tak hanya cerdas di atas kertas, tapi juga blak-blakan di depan kamera.
Warganet menyebutnya: “Menkeu rasa rakyat.” Kalimat yang sederhana, tapi menggambarkan dengan tepat gaya komunikasi Purbaya — lugas, tanpa banyak basa-basi, dan selalu fokus pada substansi.
Purbaya lahir di Bogor pada 7 Juli 1964. Ia bukan produk instan birokrasi. Lulusan Teknik Elektro ITB ini memulai kariernya di lapangan sebagai field engineer di sektor migas, jauh dari dunia politik dan pajak. Namun gairahnya pada angka dan analisis ekonomi membawa ia menempuh pendidikan lanjutan ke Purdue University, Amerika Serikat, hingga meraih gelar PhD di bidang Ekonomi. Dari sanalah lahir perpaduan langka: logika teknik dan naluri ekonomi. Dua hal yang kini menjadi ciri khas kebijakan finansialnya.
Sebelum masuk kabinet, publik mengenalnya sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020. Di masa itu, Purbaya dikenal sebagai figur tenang di tengah badai, terutama saat pandemi dan tekanan likuiditas perbankan. Ia tegas, tapi tidak meledak-ledak. Tegas tapi menghitung. Kini, di Kementerian Keuangan, gaya itu masih sama. Hanya saja, skalanya jauh lebih besar.
Gebrakan Cepat di Tiga Minggu Pertama. Baru tiga minggu menjabat, Purbaya sudah mengeluarkan beberapa langkah yang memicu perhatian publik dan pasar:
- Menempatkan dana Rp200 triliun di bank Himbara untuk menjaga likuiditas dan memperlancar kredit ke sektor riil.
- Menahan kenaikan cukai rokok tahun 2026, keputusan yang disambut lega oleh pelaku industri dan petani tembakau.
- Menegaskan tidak akan menambah jenis pajak baru, tetapi fokus pada efisiensi dan reformasi sistem pajak yang sudah ada.
“Pertumbuhan ekonomi harus terasa di bawah, bukan hanya di atas kertas,” ujarnya dalam satu wawancara televisi. Kalimat itu cepat viral, bukan karena dramatis, tapi karena jarang terdengar dari pejabat tinggi ekonomi.
Beda dengan pejabat ekonomi yang biasanya menjaga jarak, Purbaya memilih cara komunikasi yang sederhana. Ia bicara langsung ke publik, dengan analogi yang mudah dicerna. Dalam satu kesempatan, ia menyamakan kebijakan fiskal seperti “menyetir truk besar di jalan menanjak.

