Mainberita Tulungagung – Perayaan Hari Jadi ke-820 Kabupaten Tulungagung bukan sekadar seremoni tahunan. Pada momentum inilah, masyarakat diingatkan kembali pada perjalanan panjang sebuah wilayah yang telah ditempa sejarah, dibentuk oleh budaya, dan tumbuh dari peradaban tua yang pernah berdiri jauh sebelum Indonesia lahir.
Sejarah Tulungagung dapat ditarik hingga ribuan tahun silam. Di Campurdarat, jejak manusia purba ditemukan lewat fosil Manusia Wajak, menjadikan wilayah ini salah satu titik penting perkembangan peradaban Nusantara. Temuan itu bukan hanya artefak arkeologi, melainkan bukti bahwa Tulungagung sudah dihuni sejak masa prasejarah, dengan kebudayaan yang terus berkembang hingga kini.
Memasuki era kerajaan Hindu–Buddha, wilayah Tulungagung menjadi daerah agraris strategis pada masa Kediri dan Majapahit. Boyolangu diyakini sebagai salah satu titik penting aktivitas pemerintahan dan penyebaran budaya pada masa kejayaan Majapahit. Artefak berupa candi kecil, arca, lingga-yoni, hingga struktur batu yang tersebar di berbagai kecamatan menjadi saksi bisu bahwa Tulungagung bukan daerah pinggiran, melainkan bagian dari denyut jantung peradaban Jawa kuno.
Nama Tulungagung sendiri membawa kisahnya. Ada yang menafsirkan “Tulung” sebagai sumber air, dan “Agung” sebagai besar—menggambarkan wilayah subur yang dikelilingi mata air dan sungai sejak ratusan tahun lalu. Ada pula yang menyebut maknanya sebagai pertolongan besar, simbol harapan masyarakat terhadap keselamatan dan keberkahan daerah ini. Kedua makna itu menggambarkan satu hal: Tulungagung adalah tanah kehidupan.
Pada masa kolonial, tulungagung mengalami babak baru. Wilayah yang dahulu dipenuhi rawa besar—dikenal sebagai Rawa Ngrowo—diubah melalui proyek pengeringan dan irigasi besar-besaran oleh pemerintah Hindia Belanda. Dari rawa yang sunyi, lahirlah tanah pertanian produktif yang hingga hari ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.

