Namun di balik nama besar itu, ada pula para santri tanpa nama yang mengorbankan segalanya. Mereka yang berangkat dari pesantren kecil di pelosok, berbekal doa dan keberanian, ikut mempertahankan republik ini dari kembalinya penjajah.
Kini, setiap kali 22 Oktober tiba, gema takbir dan shalawat menggema di seluruh pelosok negeri, bukan sekadar ritual, tapi pengingat bahwa perjuangan santri tidak pernah selesai. Dari masa perjuangan bersenjata hingga kini di era digital, semangat santri tetap sama: menjaga keutuhan NKRI, menyebarkan ilmu, dan menegakkan akhlak.
Sejarah membuktikan, republik ini berdiri di atas doa para santri, air mata para ibu nyai, dan semangat juang yang tak lekang oleh zaman. Hari Santri bukan hanya milik kalangan pesantren, tetapi milik seluruh bangsa — pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari sujud panjang dan perjuangan para pencinta ilmu yang juga pencinta negeri.

